Eid Mubarak 1434 H / 2013

May the Mercy & Blessing’s of Allah SWT,
be with us and our family,
during this auspicious Eid Blessings Day..

May Allah SWT have accepted all our prayers,
during this blessed month of Ramadan..

May our year ahead,
continue to be filled with,
a healthy, wealthy, and prosperity life..

May we have a Joyous,
and Spirited Eid Mubarak (Blessings) day,
with all our dear ones,
filled with Love, Peace, and Happiness..

And continue to be always..
Insya Allah..
Ameen..

Best Regards,
Armetra
(~from Bukittinggi – Abu Dhabi, to the world)..

Ramadan Kareem in Abu Dhabi

No life ever grows great by itself,
Until it is devoted, focused and closely controlled.
Also no life is ever happy until,
it is lived for the glory of Allah.
May Allah bless all of us..
May the spirit of Ramadan ,
enlighten the world and show us,
the way to peace and harmony..
(~Ramadan kareem)..



Well, this is my first time experience for the holy month of ramadan, to do fasting (puasa) in overseas. The thing is, since I’ve arrived in this city (Abu Dhabi, United Arab Emirates), I know I felt amazed with the way of life of the people in here.

Then, when Ramadan month was coming, I become more amazed. Because, all activities during Ramadan are always related with worship to God (Allah SWT). Not surprise enough for middle east country, that ruled by Islam religion. But, when I’ve experieced for the first time, It makes me wondering in a good way, that make me really thankful for experienced Ramadan in this good city.

In this part of the world, the phrase used to greet during Ramadan, is “Ramadan Kareem”, meaning ‘Ramadan is generous’. Well, Ramadan is a time for giving. People give to the poor, and help out their fellow man. Charity tents are erected for those who wish to donate to the needy, and charity desks abound.

Continue reading

Menjadi Calon Imam Untukmu..

Ukhtiku..
Aku belum tahu, apa namamu pernah terucap dalam serak suaraku,
Aku belum tahu, apa asal usulmu pernah hadir dalam diskusi kehidupanku
Aku belum tahu, apa wajahmu pernah mampir dalam mimpi-mimpiku
Namun hidupmu akan selalu mengaliri semangatku
Sebab, kau adalah hadiah agung dari Tuhan..
..Untukku

Ukhtiku..
Maklumilah bila sampai saat ini aku belum datang,
Bukan ku tak ingin, bukan ku tak mau, bukan ku menunda,
Tolong jangan paksa aku, aku hanya ingin berkarya..
Karena hidup itu bukan hanya untuk memikirkan siapa jodoh kita.
Tapi, berpikir akan membangun visi & hidup seperti apa bersama jodoh kita..

Ukhtiku..
Aku masih dalam proses pembelajaran, muridnya si guru kehidupan..
Belajar untuk konsisten dalam perjuangan hidup..
Belajar agar kelak mampu menjadi Imam yang kamu syukuri kehadirannya..
Dan, adalah sangat tidak adil bagi hidupmu,
jika aku membebanimu dalam lingkaran ketidakmatanganku sekarang..

Ukhtiku..
Di mana pun engkau sekarang, janganlah gundah, janganlah gelisah
Aku akan datang, tapi memang tidak sekarang,
Karena jalan ini masih panjang..
Resah hati itu kadang memang datang tanpa diundang,
Tentang sekelebat bayang, tentang sepenggal masa depan..
Tapi, karang asaku tiada ‘kan terkikis dari panjangnya jalan perjuangan,
hanya karena sebuah kegelisahan..
Lebih baik mempersiapkan diri sebelum mengambil keputusan,
Keputusan besar untuk datang kepadamu..
Karena, siapa aku, bukan hanya dari apa yang ada di dalam hatiku,
Tapi juga tercermin dari sikap & langkahku..

Ukhtiku..
Aku akan belajar untuk mampu berbicara benar padamu,
dan bukan hanya sekedar membenarkan kata-katamu..

Continue reading

Be Myself..

And here I am,
right here in the place where I belong,
it’s a life with a beating of young heart
..

Saya masih ingat “kesan” yang muncul ketika pertama kali mendengar puisi ini. Waktu itu saya baru masuk kuliah & baru resmi berubah status menjadi mahasiswa. Sepertinya baru kemaren, namun ketika dibaca lagi, segala motivasi, harapan, & idealisme dari dalam diri itu masih membekas kuat.


MENJADI KARANG, meski tidak mudah.
Sebab ia akan menahan sengat binar mentari yang garang.
Sebab ia akan kukuh halangi deru ombak yang  menerpa tanpa kenal lelah.
Sebab ia akan menahan hempas badai yang datang menggerus terus-menerus dan coba melemahkan keteguhannya.
Sebab ia akan kokohkan diri agar tak mudah hancur dan terbawa arus.

MENJADI POHON yang tinggi menjulang, meski itu tidak mudah.
Sebab ia akan tatap tegar bara mentari yang terus menyala setiap siangnya.
Sebab ia akan meliuk halangi angin yang bertiup kasar.
Sebab ia akan terus menjejak bumi hadapi gemuruh sang petir.
Sebab ia akan hujamkan akar yang kuat untuk menopang.
Sebab ia akan menahan gempita hujan yang coba merubuhkan.
Sebab ia akan memberikan buah yang manis dan mengenyangkan.
Sebab ia akan berikan tempat bernaung bagi yang singgah di dahannya.
Sebab ia akan berikan tempat berlindung dengan rindang daun-daunnya.

MENJADI ELANG , dengan segala kejantanannya, meski itu juga tidak mudah.
Sebab ia harus melayang tinggi menembus birunya langit.
Sebab ia harus melanglang buana untuk mengenal medannya.
Sebab ia harus melawan angin yang menerpa dari segala penjuru.
Sebab ia harus mengangkasa jauh tanpa takut jatuh.
Sebab ia harus kembali ke sarang dengan makanan di paruhnya.
Sebab ia harus menukik tajam mencengkeram mangsa.
Sebab ia harus menjelajah cakrawala dengan kepak sayap yang membentang gagah.

MENJADI MELATI, meski tampak tak bermakna.
Sebab ia akan tebar harum wewangian tanpa meminta balasan.
Sebab ia tak takut hadapi angin dengan mungil tubuhnya.
Sebab ia tak ragu hadapi hujan yang membuatnya basah.
Sebab ia tak pernah iri melihat mawar yang merekah segar.
Sebab ia tak pernah malu pada bunga matahari yang menjulang tinggi.
Sebab ia tak pernah rendah diri pada anggrek yang anggun.
Sebab ia tak pernah dengki pada tulip yang berwarna-warni.
Sebab ia tak gentar layu karena pahami hakikat hidupnya.

Continue reading

Melewati Ramadhan di Project

(~Foto : Pertamina RU III, Plaju, Palembang)

Apa kabar wahai sang hati?
Semoga, seiring tak mengeringnya usaha untuk mengejar dunia,
tak mengering pula ibadah ini menghadap-Nya..
Amiin..

Alhamdulillah, Allah masih memberikan umur yang panjang hingga aku telah sampai pada pekan detik-detik akhir Ramadhan. Hati pun bertanya-tanya, apakah yang sudah berubah pada diri ini? Seperti apakah kualitas Ramadhan ku tahun ini dalam pandangan-Nya?

Ya Allah, aku takut, bahwa puasaku ini hanya “omong kosong” dalam pandangan-Mu. Puasa yang hanya semacam festival menunda selera menjelang waktu berbuka. Puasa yang dipersiapkan dengan sahur agar tidak tumbang di siang hari. Puasa yang dilakukan cuma karena takut ancaman-Mu. Dan, lebih-lebih karena takut ancaman sosial karena dinilai sebagai orang yang tidak bermoral dan tidak beriman. Astaghfirullah..

Tahun ini, kali kedua bagiku menjalani Ramadhan di tengah “hiruk-pikuknya” Project Oil & Gas di Field (Prabumulih & Palembang / Plaju). Ada tantangan tersendiri dalam memimpin subcont-subcont dan Vendor di saat puasa. Tetap kritis namun tidak “menggurui”, tetap disiplin walaupun ngantuk berat, tetap sabar walaupun lagi kesal. Ya begitulah, dengan segala kesibukan duniawi, tetap harus diimbangi dengan beribadah khusyu’.

Ada satu pengalaman menarik yang akan selalu ku ingat, yaitu ketika mencari makanan sahur. Di dekat mess, ada Ibu pedagang nasi (yang kebetulan juga orang Minang), dimana setiap kali belanja makanan sahur di sana, si Ibu akan selalu berkata, “Alhamdullillah Allah membagi rezeki, Semoga rezekinya bertambah-tambah, agar Ibu juga kebagian”.

Kata-katanya sangat sederhana, tapi selalu membuat hati ini merenung. Dan begitulah setiap saat ada orang datang membeli, lisannya tulus mengucapkan syukur dan doa buat mereka. Ucapan syukur yang tulus, ucapan do’a yang ikhlas, yang seakan-akan mereka berada pada posisi yang sangat bahagia. Yang memang selalu merasa cukup atas apa yang Allah berikan pada mereka.

Astagfirullah ya Allah, bagaimana dengan aku? Apakah aku masih terlalu sering mengeluh merasa kurang cukup juga atas pemberianmu? Ya Allah, aku malu..

Ramadhan….
Ya Allah, Ya Rahman, terimalah taubat tengadahnya jemari dalam penatnya kaki melangkah. Berikanlah aku kemampuan untuk melihat tirai hikmah hidup yang dilalui, agar hati dan lidah ini mampu selalu berujar, ”Terima kasih atas semua ini, wahai Yang Maha Sayang!”

Jodoh? Apakah Itu?

Seiring bertambahnya usia, keinginan untuk bertemu pasangan jiwa makin lama makin menguat, dan mulailah aku meraba bagian hidup yang satu ini. Walaupun, aku sendiri belum tahu sama sekali tentang kapan, dengan siapa, dan di mana.

Seorang kakak mengirimkanku artikel sederhana ini (Jazakillah Uni, saya edit yak, he3).. Sungguh, benar-benar membuatku merenung tentang keadaan diriku sendiri. Akankah aku kelak mampu membangun keluarga SaMaWa seperti yang sering didengung-dengungkan?

Ingin rasanya saya bertanya pada teman-teman seusia yang baru saja menikah. Bagaimana mereka mampu mengambil keputusan terbesar dalam hidup tsb? Karena ingin menggenapkan separuh agama? Karena perasaan cinta pada seseorangkah? Karena sudah punya penghasilan tetapkah? Karena sudah punya rumahkah? Karena jiwa yang memang sudah dewasakah? Atau, mungkin karena sudah sangat merasa kesepian? Atau karena memang sudah jodoh?

Jodoh…Serasa ringan diucap, tapi rumit dalam realita. Apalagi jika sudah berbicara tentang kriteria calon idaman. Pada awalnya, kriteria calon hanya menjadi ‘bagian masalah’, namun kemudian justru menjadi inti permasalahan itu sendiri.

“Met, banyak orang merintih, menghiba dalam doa, dan menuntut kemurahan Allah. Namun prestasi terbaik mereka hanya sebatas menuntut, tidak tampak bukti kesungguhan untuk menjemput kehidupan rumah tangga.”

“Kehidupan berkeluarga adalah arena perjuangan, penuh liku dan ujian, dibutuhkan napas kesabaran panjang, kadang kegetiran mampir susul-menyusul. Jangan hanya siap menjadi raja atau ratu, tapi tidak pernah menyiapkan diri untuk berjuang membina keluarga.” (Begitu nasehat yang ada di artikel tsb)

Kehidupan keluarga tidak berbeda dengan kehidupan individu, hanya dalam soal ujian dan beban jauh lebih berat. “Met, jika kamu sekarang masih single, lalu dibuai penyakit malas, mengeluh, nyantai, trus, keluarga seperti apa yang akan kamu bangun kelak?” Astaghfirullah, benar-benar tertusuk dalam rasanya hati ini disuguhi pertanyaan itu.

“Ketika sifat kedewasaan telah menjadi jiwa, jodoh itu akan datang tanpa harus dirintihkan. Kala itu hati seseorang telah bulat utuh, siap menerima realita kehidupan rumah tangga, manis atau getirnya, dengan lapang dada..”

Jangan lagi bertanya, “Mana jodohku?” Namun bertanyalah, “Sudah dewasakah aku?”

Untuk sekarang, aku menjawab belum. Masih banyak hal yang perlu diperbaiki. Masih perlu banyak ikhtiar yang harus gigih ku lakukan untuk berjuang mempersiapkan diri, memperbaiki hati, dan menggapai mimpi…” Ya Allah, kuatkan aku..

Opick – Rapuh

Detik waktu terus berjalan,
Berhias gelap dan terang..

Suka dan duka, tangis dan tawa,
Tergores bagai lukisan..

Seribu mimpi, berjuta sepi,
Hadir bagai teman sejati..

Di antara lelahnya jiwa,
dalam resah dan air mata,

Ku persembahkan kepadaMu
Yang terindah dalam hidupku..

Reff:

Meski ku rapuh dalam langkah
Kadang tak setia kepadaMu
Namun cinta dalam jiwa
Hanyalah pada-Mu

Maafkanlah bila hati
tak sempurna mencintai-Mu
Dalam dadaku harap
hanya diri-Mu yang bertahta..


Detik waktu terus berlalu
semua berakhir pada-Mu..



(See the video below).. Continue reading

Ketika DIA bertanya..

“Fabiayyi aalaaa i rabbikuma tukadzdzibaan”..

Sudah tiga malam berturut-turut, Mesjid di sebelah rumah selalu memutar ayat yang sama saat menjelang Subuh.. Perlahan, mengiringi datangnya fajar. Dan, ketika mendengarnya sekarang, Ayat dalam surat Ar-Rahman tsb terasa sangat “meyesakkan”.. Dan, itu membuatku berpikir. Apakah Engkau sedang “bertanya” padaku, Ya Rabb..??

Ku ambil Wudhu’, lalu melangkah tenang dalam buaian Tahajjud, dan merenung panjang. Dingin terasa perlahan menelusup dalam simpul saraf yang menegang menantang perjalanan hidup..  Perjalanan hidup..  Perjalanan yang terasa panjang dan melelahkan. Tak terasa 23 tahun terlewati. Kini saya di sini merasa belum menjadi siapa-siapa.

Langkah takdir membawaku kesini. Keluar untuk mencari bekal ilmu dengan harapan besar untuk penghidupan yang lebih baik secara materi. Kemudahan demi kemudahan membuaikan perjalananku. Panggilan-Nya tidak lagi merengkuh hati untuk segera menghadap, Detik detik malam pun berlalu dalam hening tanpa sujud yang menemaninya. Semuanya berjalan begitu saja, dan hampa.

“Fabiayyi aalaaa i rabbikuma tukadzdzibaan”

Seperti roda pedati, perjalanan hidup adakalanya di atas, ada kalanya ia terjungkir ke bawah bersama kerikil dan lumpur. Lantas apakah aku harus menyalahkan Allah akan kondisiku yang sedang ada di bawah? Mengapa kesulitan ini semakin terasa begitu menghimpit, Ya Rabb? Apa sesungguhnya yang sedang Kau tunjukkan padaku?

Ketika Allah bertanya, “Fabiayyi aalaaa i rabbikuma tukadzdzibaan”.. “Nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?”, aku cuma bisa termenung merenungi jawabannya.. Ya Allah, Astaghfirullah…

Masih bersimpuh di atas sajadah, saya merasakan ada nikmat. Nikmat yang mungkin sudah terlupakan. Nikmat syukur, karena Dia masih memberiku kesempatan untuk ditanya..

Ya Allah, Lapangkanlah, Ya Rabbi..

sujud memohon pertolongan-Nya


Ya Allah,
Perbaikilah kehidupan religiku, yang ia adalah benteng bagi segala urusanku..
Perbaikai urusan duniawiku yang padanya kehidupanku..
Perbaikilah akhiratku, yang kepadanya tempatku kembali..
Jadikanlah hidup ini sebagai lahan uapayaku menambah segala kebajikan,
dan jadikanlah mati sebagai titik henti bagiku dari segala keburukan..


Ketika permasalahan hidup membelit, kebingungan, dan kegalauan mendera..
Ketika gelisah jiwa menghempas-hempas,
Ketika semua pintu solusi terlihat buntu,
Dan kepala serasa mau meledak: tak mengerti apalagi yang mesti dilakukan..
Tak tahu lagi jalan mana yang harus ditempuh..
Hingga dunia terasa begitu sempit dan menyesakkan..

Ketika kepedihan merujit-rujit hati..
Ketika kabut kesedihan meruyak, menelusup ke dalam sanubari..
Atas musibah-musibah yang beruntun mendera diri..
Apalagi yang dapat dilakukan untuk meringankan beban perasaan?
Apalagi yang dapat dikerjakan untuk melepas kekecewaan?

Continue reading

Diriku oh, Diriku…

merenungi kefanaan diri

Apa yang kau cari wahai diriku?
Bukankah sudah banyak nikmat yang ditampakkan
Bukankah sudah banyak pelajaran diajarkan
Bukankah sudah banyak kegelisahan dihiburkan
Bukankah sudah banyak keraguan yang dinyatakan

Apa lagi yang kau harapkan wahai nafsuku?
Bukankah sudah begitu banyak kesia-siaan kau tawarkan
Bukankah sudah banyak celah kemaksiatan kau longgarkan
Bukankah sudah begitu banyak keraguan kau persembahkan
Bukankah sudah begitu banyak kegelapan kau hamparkan

Continue reading