Jodoh? Apakah Itu?

Seiring bertambahnya usia, keinginan untuk bertemu pasangan jiwa makin lama makin menguat, dan mulailah aku meraba bagian hidup yang satu ini. Walaupun, aku sendiri belum tahu sama sekali tentang kapan, dengan siapa, dan di mana.

Seorang kakak mengirimkanku artikel sederhana ini (Jazakillah Uni, saya edit yak, he3).. Sungguh, benar-benar membuatku merenung tentang keadaan diriku sendiri. Akankah aku kelak mampu membangun keluarga SaMaWa seperti yang sering didengung-dengungkan?

Ingin rasanya saya bertanya pada teman-teman seusia yang baru saja menikah. Bagaimana mereka mampu mengambil keputusan terbesar dalam hidup tsb? Karena ingin menggenapkan separuh agama? Karena perasaan cinta pada seseorangkah? Karena sudah punya penghasilan tetapkah? Karena sudah punya rumahkah? Karena jiwa yang memang sudah dewasakah? Atau, mungkin karena sudah sangat merasa kesepian? Atau karena memang sudah jodoh?

Jodoh…Serasa ringan diucap, tapi rumit dalam realita. Apalagi jika sudah berbicara tentang kriteria calon idaman. Pada awalnya, kriteria calon hanya menjadi ‘bagian masalah’, namun kemudian justru menjadi inti permasalahan itu sendiri.

“Met, banyak orang merintih, menghiba dalam doa, dan menuntut kemurahan Allah. Namun prestasi terbaik mereka hanya sebatas menuntut, tidak tampak bukti kesungguhan untuk menjemput kehidupan rumah tangga.”

“Kehidupan berkeluarga adalah arena perjuangan, penuh liku dan ujian, dibutuhkan napas kesabaran panjang, kadang kegetiran mampir susul-menyusul. Jangan hanya siap menjadi raja atau ratu, tapi tidak pernah menyiapkan diri untuk berjuang membina keluarga.” (Begitu nasehat yang ada di artikel tsb)

Kehidupan keluarga tidak berbeda dengan kehidupan individu, hanya dalam soal ujian dan beban jauh lebih berat. “Met, jika kamu sekarang masih single, lalu dibuai penyakit malas, mengeluh, nyantai, trus, keluarga seperti apa yang akan kamu bangun kelak?” Astaghfirullah, benar-benar tertusuk dalam rasanya hati ini disuguhi pertanyaan itu.

“Ketika sifat kedewasaan telah menjadi jiwa, jodoh itu akan datang tanpa harus dirintihkan. Kala itu hati seseorang telah bulat utuh, siap menerima realita kehidupan rumah tangga, manis atau getirnya, dengan lapang dada..”

Jangan lagi bertanya, “Mana jodohku?” Namun bertanyalah, “Sudah dewasakah aku?”

Untuk sekarang, aku menjawab belum. Masih banyak hal yang perlu diperbaiki. Masih perlu banyak ikhtiar yang harus gigih ku lakukan untuk berjuang mempersiapkan diri, memperbaiki hati, dan menggapai mimpi…” Ya Allah, kuatkan aku..

Tagged , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply