Lebaran Sepi di Rantau



Mudik, bagi para kaum rantau (seperti awak) adalah suatu keharusan. TV dan koran ikut menyemarakkannya. Bahkan minggu-minggu terakhir di kantor, udah gak ada yang konsen kerja lagi. Walaupun secara fisik masih di kantor, tapi jiwa sepertinya udah ada di kampung.

Ya mudik merupakan fenomena Ilahiah. Ada rasa kerinduan yang mendalam ketika lebaran tiba untuk pulang kampung. Sebuah tradisi yang menyemai nilai-nilai Islam yang sungguh luar biasa menyentuh bagi setiap insan.

Tapi tahun ini, awak tidak bisa mudik, tidak leluasa berkumpul di kampung. Karena libur kantor / aturan kerja yang tidak bisa ditawar, dan harga tiket yang “mantap” ketika H-1. Walhasil, terpaksa Lebaran di Jakarta aja. Meski awak merantau sudah lebih dari 5 tahun, tapi biasanya lebaran selalu ada di tengah mereka.

Ya, hari ini aku rindu segalanya tetek-bengek rumah. Aku ingin berkumpul bersama orang tua, bersenda gurau dengan kawan-kawan lama, berangkat ke masjid diiringi gema takbir bareng orang-orang sekampung, dan bersalam-salaman ke segenap orang.

Ah… sepi rasanya bila mengingat kebersamaan yang selalu ada di setiap lebaran. Dua malam awak bengong di depan jendela selepas tadarus, nyalain YM tanpa chatting karena yang OL sepi.  Dua malam ini seolah – olah “dunia” berkompromi agar awak merasa sepi dalam kerinduan pada suasana.

Rindu pada nuansa kebersamaan dan Idul Fitri di tengah keluarga. Rindu pada ketupat, rendang, dan kue khas Lebaran buatan Ibu. Dan rindu pada perasaan haru ketika sungkem di pangkuan Ayah-Ibu..

Tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply