Melewati Ramadhan di Project

(~Foto : Pertamina RU III, Plaju, Palembang)

Apa kabar wahai sang hati?
Semoga, seiring tak mengeringnya usaha untuk mengejar dunia,
tak mengering pula ibadah ini menghadap-Nya..
Amiin..

Alhamdulillah, Allah masih memberikan umur yang panjang hingga aku telah sampai pada pekan detik-detik akhir Ramadhan. Hati pun bertanya-tanya, apakah yang sudah berubah pada diri ini? Seperti apakah kualitas Ramadhan ku tahun ini dalam pandangan-Nya?

Ya Allah, aku takut, bahwa puasaku ini hanya “omong kosong” dalam pandangan-Mu. Puasa yang hanya semacam festival menunda selera menjelang waktu berbuka. Puasa yang dipersiapkan dengan sahur agar tidak tumbang di siang hari. Puasa yang dilakukan cuma karena takut ancaman-Mu. Dan, lebih-lebih karena takut ancaman sosial karena dinilai sebagai orang yang tidak bermoral dan tidak beriman. Astaghfirullah..

Tahun ini, kali kedua bagiku menjalani Ramadhan di tengah “hiruk-pikuknya” Project Oil & Gas di Field (Prabumulih & Palembang / Plaju). Ada tantangan tersendiri dalam memimpin subcont-subcont dan Vendor di saat puasa. Tetap kritis namun tidak “menggurui”, tetap disiplin walaupun ngantuk berat, tetap sabar walaupun lagi kesal. Ya begitulah, dengan segala kesibukan duniawi, tetap harus diimbangi dengan beribadah khusyu’.

Ada satu pengalaman menarik yang akan selalu ku ingat, yaitu ketika mencari makanan sahur. Di dekat mess, ada Ibu pedagang nasi (yang kebetulan juga orang Minang), dimana setiap kali belanja makanan sahur di sana, si Ibu akan selalu berkata, “Alhamdullillah Allah membagi rezeki, Semoga rezekinya bertambah-tambah, agar Ibu juga kebagian”.

Kata-katanya sangat sederhana, tapi selalu membuat hati ini merenung. Dan begitulah setiap saat ada orang datang membeli, lisannya tulus mengucapkan syukur dan doa buat mereka. Ucapan syukur yang tulus, ucapan do’a yang ikhlas, yang seakan-akan mereka berada pada posisi yang sangat bahagia. Yang memang selalu merasa cukup atas apa yang Allah berikan pada mereka.

Astagfirullah ya Allah, bagaimana dengan aku? Apakah aku masih terlalu sering mengeluh merasa kurang cukup juga atas pemberianmu? Ya Allah, aku malu..

Ramadhan….
Ya Allah, Ya Rahman, terimalah taubat tengadahnya jemari dalam penatnya kaki melangkah. Berikanlah aku kemampuan untuk melihat tirai hikmah hidup yang dilalui, agar hati dan lidah ini mampu selalu berujar, ”Terima kasih atas semua ini, wahai Yang Maha Sayang!”

Tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply