Opick – Rapuh

Detik waktu terus berjalan,
Berhias gelap dan terang..

Suka dan duka, tangis dan tawa,
Tergores bagai lukisan..

Seribu mimpi, berjuta sepi,
Hadir bagai teman sejati..

Di antara lelahnya jiwa,
dalam resah dan air mata,

Ku persembahkan kepadaMu
Yang terindah dalam hidupku..

Reff:

Meski ku rapuh dalam langkah
Kadang tak setia kepadaMu
Namun cinta dalam jiwa
Hanyalah pada-Mu

Maafkanlah bila hati
tak sempurna mencintai-Mu
Dalam dadaku harap
hanya diri-Mu yang bertahta..


Detik waktu terus berlalu
semua berakhir pada-Mu..



(See the video below).. Continue reading

Ketika DIA bertanya..

“Fabiayyi aalaaa i rabbikuma tukadzdzibaan”..

Sudah tiga malam berturut-turut, Mesjid di sebelah rumah selalu memutar ayat yang sama saat menjelang Subuh.. Perlahan, mengiringi datangnya fajar. Dan, ketika mendengarnya sekarang, Ayat dalam surat Ar-Rahman tsb terasa sangat “meyesakkan”.. Dan, itu membuatku berpikir. Apakah Engkau sedang “bertanya” padaku, Ya Rabb..??

Ku ambil Wudhu’, lalu melangkah tenang dalam buaian Tahajjud, dan merenung panjang. Dingin terasa perlahan menelusup dalam simpul saraf yang menegang menantang perjalanan hidup..  Perjalanan hidup..  Perjalanan yang terasa panjang dan melelahkan. Tak terasa 23 tahun terlewati. Kini saya di sini merasa belum menjadi siapa-siapa.

Langkah takdir membawaku kesini. Keluar untuk mencari bekal ilmu dengan harapan besar untuk penghidupan yang lebih baik secara materi. Kemudahan demi kemudahan membuaikan perjalananku. Panggilan-Nya tidak lagi merengkuh hati untuk segera menghadap, Detik detik malam pun berlalu dalam hening tanpa sujud yang menemaninya. Semuanya berjalan begitu saja, dan hampa.

“Fabiayyi aalaaa i rabbikuma tukadzdzibaan”

Seperti roda pedati, perjalanan hidup adakalanya di atas, ada kalanya ia terjungkir ke bawah bersama kerikil dan lumpur. Lantas apakah aku harus menyalahkan Allah akan kondisiku yang sedang ada di bawah? Mengapa kesulitan ini semakin terasa begitu menghimpit, Ya Rabb? Apa sesungguhnya yang sedang Kau tunjukkan padaku?

Ketika Allah bertanya, “Fabiayyi aalaaa i rabbikuma tukadzdzibaan”.. “Nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?”, aku cuma bisa termenung merenungi jawabannya.. Ya Allah, Astaghfirullah…

Masih bersimpuh di atas sajadah, saya merasakan ada nikmat. Nikmat yang mungkin sudah terlupakan. Nikmat syukur, karena Dia masih memberiku kesempatan untuk ditanya..

Diriku oh, Diriku…

merenungi kefanaan diri

Apa yang kau cari wahai diriku?
Bukankah sudah banyak nikmat yang ditampakkan
Bukankah sudah banyak pelajaran diajarkan
Bukankah sudah banyak kegelisahan dihiburkan
Bukankah sudah banyak keraguan yang dinyatakan

Apa lagi yang kau harapkan wahai nafsuku?
Bukankah sudah begitu banyak kesia-siaan kau tawarkan
Bukankah sudah banyak celah kemaksiatan kau longgarkan
Bukankah sudah begitu banyak keraguan kau persembahkan
Bukankah sudah begitu banyak kegelapan kau hamparkan

Continue reading

Mencintai semampuku

heartallah

Sebuah doa yang sangat menyentuh..
Pertama kali membacanya, air mata awak menetes tak terasa..
Berkali-kali pun awak baca setelah itu, selalu memberi kesejukan bagi hati..

Tuhanku,
Aku masih ingat, saat pertama dulu aku belajar mencintaiMu…
Lembar demi lembar kitab kupelajari…
Untai demi untai kata para ustadz kuresapi…
Tentang cinta para nabi,
Tentang kasih para sahabat,
Tentang mahabbah para sufi,
Tentang kerinduan para syuhada..


Tapi Rabbii,
Berbilang detik, menit, jam, hari, pekan, bulan dan kemudian tahun berlalu…
Aku sangat jauh dari mencintaiMu dengan cinta yang paling utama itu, Ya Rabb..


Allahu Rahiim, Ilaahi Rabbii,
Perkenankanlah aku mencintaiMu Sebisaku
Dengan segala kelemahanku

Continue reading